|
...... seberapa besarkah bahaya yang mengancam relawan kemanusiaan saat bertugas, khususnya di wilayah konflik ..... ??? ...... benarkah, dengan mengandalkan dan menerapkan Tujuh Pilar, maka nyawa para pejuang kemanusiaan dapat terjaga...???
Fakta... 2002: 12 personal Palang Merah Nepal terbunuh dalam 4 bulan4 2003: 4 personal Palang Merah Pantai Gading terbunuh4 2003: 6 personal Palang Merah Uganda disergap dan terluka saat4 bertugas 2004: Personil BSM Afghanistan dijadikan target serangan4 2004: 10 orang anggota team medis PMI NAD ditawan saat bertugas4 2005: Satu orang petugas PM Hongkong tertembak dan terluka di NAD4 Data diatas hanyalah sekelumit saja dari yang tercatat ... !!! Sapta. Sebut saja begitu namanya. Anggota KSR Jakarta Barat, yang saat itu bertugas membawa ambulans saat kerusuhan 13-14 Mei 1998 lalu, dengan cepat memutar haluan ke arah kerumunan massa. Nalurinya tergerak mendengar ada korban pemukulan yang terkapar... Namun tak diduga tak dinyana... saat tiba di lokasi, bukan bantuan massa menolong korban yang didapat, melainkan ambulansnya yang justru menjadi sasaran. Prang !!! Sebilah kayu pecah memukul kaca samping ambulans. Jangankan menolong korban terkapar. Berhenti pun tak sempat karena massa akan mulai menggoyang mobil. Dengan cepat, kembali Sapta memutar ambulansnya dan berbalik dengan kecepatan tinggi, menjauhi massa. Ternyata massa tak ’rela’ korbannya ditolong. Entah bagaimana nasib korban itu selanjutnya, tak ada yang tahu... Lain lagi cerita para relawan yang bertugas di NAD tahun 2004 lalu. Sekitar 10 orang relawan yang sedang mengadakan pengobatan, terjebak di tengah kontak tembak yang berlangsung tiba-tiba. Beruntung tidak ada relawan yang terluka saat itu, selain seorang relawan yang tersandera oleh salah satu pihak yang bertikai, karena salah arah jauh masuk ke hutan saat lari menyelamatkan diri. Proses penyelamatan agar bebas dari sandera pun menjadi agenda selanjutnya saat itu. Masih banyak lagi kisah yang dialami para relawan PMI saat bertugas. Tidak hanya saat bencana, terutama pada saat konflik berlangsung, betapa bahaya dapat mengancam setiap saat. Jika tidak waspada dan pandai menilai situasi, maka nyawa dapat menjadi taruhannya. Bagaimana dengan anda? Tujuh Pilar Safer Access Sesuai sebutannya, safer access atau ’akses yang lebih aman’ adalah strategi atau kiat, agar petugas palang merah dapat memperoleh dan mendapatkan akses yang lebih aman untuk melakukan tugasnya. Pentingnya mendapatkan akses yang aman, membuat komite Internasional Palang Merah (ICRC), merumuskan acuan-acuan dalam safer access sebagai suatu hal yang mutlak diketahui dan diikuti oleh setiap organisasi dan anggota palang merah. Walaupun demikian, tentunya safer access ini bukanlah ’malaikat’ yang betul-betul dapat menjamin tugas-tugas kemanusiaan menjadi tugas tanpa resiko. Namun paling tidak, dengan melakukan beberapa acuan, resiko yang mengintai dapat diminimalisir. Sebut saja, misalnya ’Penerimaan Terhadap Organisasi’ sebagai salah satu pilar yang menjadi pintu gerbang bagi pilar lainnya. Penerimaan terhadap Organisasi, oleh berbagai pihak yang ada dalam wilayah penugasan, dapat menjadi penentu awal, dapat atau tidaknya palangmerah melakukan tugas kemanusiaan di daerah tersebut. Misalnya, Penerimaan terhadap organisasi PMI, bahwa PMI betul-betul dipercaya oleh semua pihak sebagai organisasi yang netral, tidak memihak dan individunya tidak melakukan kegiatan lain, selain kegiatan kemanusiaan. Andaikata PMI tidak dapat diterima bertugas di suatu wilayah (konflik), maka tentunya relawan PMI dan PMI sendiri secara organisasi akan sulit melaksanakan berbagai misi kemanusiaan. Hal ini tentu membawa implikasi terhadap tugas-tugas lainnya dalam berbagai situasi, mulai dari Pra, Pada Saat -hingga- Pasca konflik berlangsung. Inilah pentingnya menyebarluaskan informasi tentang palangmerah atau organisasi PMI kepada semua pihak yang ada, selama damai masih terjalin; sebab jika damai itu telah hilang, maka palangmerah sebaiknya sudah secara otomatis mendapatkan akses terbaiknya. Sungguh sebuah jaminan yang tidak dapat dipastikan dapat dimiliki, jika proses informasi telah terhambat sebelumnya. Saat ini, melihat beragamnya kemungkinan yang dapat terjadi dimana PMI dituntut untuk dapat melaksanakan berbagai misi kemanusiaannya, berbagai pelatihan yang diberikan kepada relawan PMI juga mulai menyertakan materi safer access sebagai materi yang wajib diberikan. Tujuannya tentu, adalah agar pada saat – terutama – konflik terjadi, maka tidak ada relawan PMI yang menjadi korban sandera, luka atau tewas... (ihl sub division) http://palangmerah.multiply.com |