|
Silahkan tulis tanggapan anda atau kirim artikel pemikiran lainya ke
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
, mari kita munculkan serta satukan pemikiran untuk memajukan organisasi dan memajukan negeri ini. - Ada komentar baru - ( 1 ) Kepada Yth. H. Daeng Kamaruzaman di- Depok Ass Wr. Wb. Topik berjudul Obrolan Warung Kopi adalah sekelumit siasat untuk mengembangkan organisasi mudah-mudahan bermanfaat, walaupun belum selesai semuanya. Bravo RAPI Wass Wr. Wb. Salam Jz 30 ab ( Naufal Affandi)
Serang, 27 Pebruari 2008 Insya Allah akan saya lanjutkan pada saat mendatang, Bravo RAPI Kiriman Naufal Affandi, ( 2 ) Kepada Yth. Bpk. H. Daeng Kamaruzzaman di- Depak Ass Wr. Wb. Obrolan warung kopi selengkapnya, mudah-mudahan dapat memicu para pengurus Pusat, Daerah, Wilayah dan Lokal, Wass Wr. Wb. Jz30AB OBROLAN WARUNG KOPI MENJELANG RAPAT KERJA NASIONAL RADIO ANTAR PENDUDUK INDONESIA ( RAPI ) Seringkali kita dihadapkan pada kenyataan yang tidak dapat menutup telinga dan mata, berupa pertanyaan yang sangat mendasar dari hak anggota, seperti “ Apa yang saya dapat dari RAPI” ?, seringkali juga kita dihadapkan pada kenyataan yang lucu hampir konyol ketika mendengar dan melihat pertanyaan tersebut, seringkali orang yang memiliki eksistensi dan kredibilitas serta loyalitas berbalik bertanya “ Apa yang telah saudara perbuat untuk RAPI” ? nah lo obrolan ini menjadi amat panjang ketika si Polan bergabung, apalagi dibicarakan di UDARA wah tambah bersemangat rekan kita memperbincangkan soal “ hak “. obrolan bergeser ketika si anu sok mengatur, si itu sok tahu dan si ini menjadi komentator, sehingga seringkali yang terjadi adalah bertumpuknya pengguna pada satu frekuensi yang disebut “ KRODIT” wah bahasa apalagi ini, ditengahi oleh dul amin sekaligus menjadi juru penerang dengan membacakan SK SK dan Tata Tertib serta Kode Etik dan seterusnya, inilah salah satu fragmen yang terjadi ketika anggota RAPI mengudara, tidak ada yang membatasi dan tidak ada yang dibatasi semuanya mengalir begitu saja tanpa “KOMA” . Duapuluh delapan tahun lalu, RAPI berdiri, RAPI merupakan organisasi massa yang berbasis pada kesamaan hobi, perkembangannya begitu pesat dari tahun ke tahun, coba tengok sudah berapa jumlah anggota RAPI tersebar di Indonesia, belum lagi individu yang menggunakan radio komunikasi tanpa ijin seperti “Satuan Pengamanan” di Proyek maupun di perumahan-perumahan elit dan individu lainnya. Perkembangan tersebut semestinya juga dibarengi dengan persiapan “Pengembangan Organisasi” nya sehingga ketika kompleksitas terjadi organisasi siap mengatasi permasalahan-permasalahan. Berbicara pengembangan organisasi, saya yakin para pengurus RAPI Pusat, Daerah dan Wilayah serta bahkan Lokal memiliki kemampuan untuk mengembangkan organisasi, namun demikian karena hirarki maka kapabilitas dan kewenangan lebih bertumpu di Pengurus Pusat, kiprah dan peran pengurus pusat sudah tidak diragukan lagi, Keputusan Menteri No. 77 sudah di implementasikan, ini salah satu bukti bahwa kemampuan para pengurus pusat tidak diragukan lagi, lebih jauh perkembangan organisasi jelas bertumpu pada apa yang dihasilkan pengurus pusat, yang dimaksudkan dengan “ apa yang dihasilkan” adalah “ arah dan kebijakan organisasi” Untuk menetapkan arah dan kebijakan organisasi RAPI tidaklah mudah, diperlukan eksistensi dan loyalitas para pengurus, (sudah termasuk waktu dan uang = berani nombokin atau keluar uang dan tanpa pretensi), hal ini kita maklumi bersama, namun yang perlu diingatkan adalah arah dan kebijakan apa yang akan menentukan perkembangan RAPI. Obrolan tukang kopi ini merupakan secuil kontribusi dari seorang anggota RAPI yang ingin melihat RAPI berkembang pesat dengan segudang apresiasi yang diterimanya. Obrolan ini berkisar sebagaimana berikut : - Identifikasi masalah-masalah yang ada
- Membuat model penyelesaian masalah
- Membuat arah dan kebijakan organisasi
1. Identifikasi masalah-masalah yang ada Setiap organisasi tidak luput dari permasalahan-permasalahan, baik masalah internal maupun eksternal, hal ini akibat kompleksitas tugas dan tanggung jawab, karenanya dibutuhkan pengelolaan yang akuntabel. Untuk dapat menjadi pengelola yang akuntabel maka sumber daya manusia merupakan faktor yang pertama yang harus di upgrade baik pengetahuannya maupun ketrampilannya, lo kok segitu berat persyaratannya, ya persoalannya bukan terletak pada apakah organisasi nirlaba ataupun profitabel, namun terletak pada pembagian tugas dan tanggung jawab yang secara keseluruhan akan memaksimalkan pelayanan baik kepada anggota maupun kepada masyarakat. RAPI.
2. Membuat model penyelesaian masalah Salah satu model pengembangan organisasi yang handal dan akuntabel digambarkan sebagai berikut :  3. Membuat arah dan kebijakan organisasi
Memperhatikan diagram tersebut diatas, barangkali langkah-langkah pembenahan organisasi dinyatakan sebagai berikut : - Sudahkah RAPI merumuskan Visi dan Misi nya ?
- Sudahkah RAPI memiliki Rencana Strategis ? biasanya antara 5 – 10 tahun,
- Apakah Renstra, Visi dan Misi disosialisasikan ke Pengurus Pusat, Daerah, Wilayah dan Lokal, serta kepada Anggota ?, hal ini ditindaklanjuti dengan upaya penyerapan aspirasi anggota sehingga dimungkinkan Renstra, Visi dan Misi diubah sesuai dengan kebutuhan anggota ?
- Apakah setiap kegiatan RAPI telah memiliki SOP ?
- Bagaimana kapabilitas SDM para Pengurus ? contohnya yang akan menjadi pengurus sudahkah mengikuti pelatihan Kepemimpinan atau lainnya ?
- Kemudian bagaimana mengembangkan kemampuan SDM para pengurus ?
- Apakah budaya kerja, etos kerja para pengurus RAPI sudah sesuai dengan standar Organisasi Modern ?
- Sudahkah siap RAPI mentransformasikan “organisasi tanpa wujud” ke “organisasi yang tangguh” ?
Perlu dijabarkan ke delapan pertanyaan tersebut diatas oleh siapa ? hal yang paling mudah dijawab adalah oleh KITA, siapa kita, KITA adalah orang-orang yang peduli terhadap perkembangan organisasi, lalu bagaimana mengaturnya ? kemudian siapa yang membiayai “ sekali lagi jawabannya …“MUDAH” 1. Sudahkah RAPI merumuskan Visi dan Misinya ? Visi, contoh ; Mewujudkan RAPI sebagai organisasi yang handal dalam bidang komunikasi pada tahun 2010, dan Misi, berupaya untuk melaksanakan kegiatan yang bla bla... Saya yakin RAPI telah memiliki Visi dan Misi 2.Sudahkah RAPI memiliki Rencana Strategis ? biasanya antara 5 – 10 tahun, Rencana Strategis ( Renstra ), adalah rencana kegiatan yang realistis, wajar serta diharapkan mampu untuk dilaksanakan, rencana kerja ini sudah barang tentu harus mengacu pada visi dan misi yang telah dituangkan, serta sasaran yang ditetapkan harus dijadikan pedoman dalam melaksanakan kegiatan tersebut, kemudian agar renstra ini dapat dijalankan diperlukan suatu pernyataan bersama dalam bentuk “KOMITMEN” , komitmen ini ditanda tangani oleh semua unsur pengurus (Pusat, Daerah, Wilayah dan Lokal). 3. Apakah Renstra, Visi dan Misi disosialisasikan ke Pengurus Pusat, Daerah, Wilayah dan Lokal, serta kepada Anggota ?,
hal ini ditindaklanjuti dengan upaya penyerapan aspirasi anggota sehingga dimungkinkan Renstra, Visi dan Misi diubah sesuai dengan kebutuhan anggota ? SOSIALISASI, road to Daerah , merupakan salah satu upaya sosialisasi, disamping upaya lain seperti menyebarkan buku saku yang berisi Visi, Misi dan Renstra serta informasi lain yang dipandang perlu untuk disampaikan, 4. Apakah setiap kegiatan RAPI telah memiliki SOP ? RAPI, akronim dari RAPI dapat dianalogikan kedalam bahasa gaul, 5. Bagaimana kapabilitas SDM para Pengurus ? contohnya yang akan menjadi pengurus sudah mengikuti pelatihan Kepemimpinan atau lainnya ? Diperlukan uraian tugas, wewenang dan tanggung jawab yang tegas dan jelas masing-masing pemangku jabatan, kemudian diperlukan juga matrik kompetensinya, kemudian diharapkan para pemangku jabatan membuat rencana kerja yang mengacu pada visi, misi, sasaran serta renstra RAPI. 6. Kemudian bagaimana mengembangkan kemampuan SDM para pengurus ? Matrik kompetensi akan menggambarkan kemampuan para SDM yang menjadi pengurus, oleh karenanya ketika SDMnya tidak mampu maka upayanya harus diadakan pelatihan atau sejenisnya atau jika berkaitan dengan beban biaya yang mahal , maka dimintakan kontribusi pengurus tersebut terhadap jabatannya agar loyal dan kreatif serta senantiasa belajar secara mandiri, namun jika memungkinkan adakan pelatihan dengan mengundang pakar untuk waktu yang singkat misalnya Simposium atau lainnya. 7. Apakah budaya kerja, etos kerja para pengurus RAPI sudah sesuai dengan standar Organisasi Modern ? Budaya, pada organisasi formal (yang berorientasi profit), saja budaya, etos kerja sangat sulit untuk dirubah, fenomena ini berakar dari “ perubahan yang akan dilakukan senantiasa membawa bencana” untuk merubahnya diperlukan Apresiasi, pengertian apresiasi adalah sesuatu yang dapat diterima oleh yang bersangkutan, dapat berupa materi maupun non materi. 8. Sudahkah siap RAPI mentransformasikan “organisasi tanpa wujud” ke organisasi yang tangguh ? Terakhir transformasi adalah implementasi yang akan diterapkan, penetapan ini sangat sulit dilakukan apabila tidak ada yang berani mengambil keputusan seperti misalnya :’ Ketua Umum RAPI” tidak berani menyatakan bahwa RAPI adalah organisasi massa yang nirlaba dan profesional di bidang Komunikasi, yang memberikan kontribusi terhadap kepentingan kemanusiaan, khususnya di Indonesia “ contoh sederhana “ Palang Merah Indoensia “ RAPI harus menjadi organisasi seperti “Palang Merah Indonesia” ??????????? 9. Membuat arah dan kebijakan organisasi Diperlukan kebijakan manajemen dalam mengimplementasikan organisasi modern di tubuh RAPI, dengan membuat arah dan kebijakan organisasi, langkahnya selain yang telah diuraikan tersebut diatas, arah dan kebijakan organisasi memperhatikan kekuatan formal atau yuridis seperti : 1. Undang-Undang tentang komunikasi 2. Peraturan Menteri 3. dan pedoman lain yang bisa dijadikan acuan Insya Allah, RAPI akan menjadi organisasi sosial yang disegani dan dapat berperan aktif dalam kegiatan kemanusiaan di Indonesia. amin Obrolan warung kopi ini diakhiri dengan segudang harapan, mudah-mudahan kemampuan para pengurus dapat terus di upgrade sesuai dengan kebutuhan serta semoga para pengurus RAPI (pusat, daerah, wilayah dan lokal) senantiasa diberkahi oleh Allah SWT. Serang, 28 Pebruari 2008 Kiriman Naufal Affandi, JZ 30 AB Dikriim via email : tanggal 28/02/2008, jam : 18.15 tepat saat adzan magrib berkumandang. Executive Summary Dibutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan merubah pola organisasi yang selama ini di jalankan ke arah organisasi modern, dengan menerapkan salah satu metode misalnya KAIZEN dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari, dimana aktivitas dijalankan berdasarkan visi, misi dan kebijakan organisasi, aktivitas dijalankan berdasarkan hasil inisitif dan kreatif para pengurus, adanya saluran saran kreatif dari anggota, adanya unit pengolah rencana kegiatan semacam gugus kendali mutu atau tim brainstorming, dan lain sebagainya. Kapan RAPI berputar haluan , jika RAPI tidak merubah pola organisasinya, sementara tuntutan semakin tinggi maka RAPI akan kelelep / tenggelam ditelan waktu dan terabaikan, wah naif banget kalo gitu “ salah satu model pengembangan organisasi modern digambarkan sebagai berikut :  Download dokumen terkait: http://rapi-nusantara.net/index.php?option=com_docman&task=doc_download&gid=28&Itemid=33 Team RAPI-Nusantara.NET
|